Bagaimana dengan Logo Halal MUI?

Kementerian Agama (Kemenag) melalui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) merilis logo halal baru. Penetapan label halal berikut dituangkan di dalam Keputusan Kepala BPJPH Nomor 40 Tahun 2022 mengenai Penetapan Label Halal. Adapun Surat Keputusan ditetapkan di Jakarta terhadap 10 februari 2022, ditandatangani Kepala BPJPH Muhammad Aqil Irham, dan berlaku terasa 1 Maret 2022.

Terkait logo halal baru ini, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan bahwa ke depan logo halal MUI tak berlaku lagi. Pernyataan berikut disampaikan Yaqut di dalam account formal Instagramnya @gusyaqut. “Di waktu-waktu yang dapat datang, secara bertahap label halal yang diterbitkan oleh MUI dinyatakan tidak berlaku lagi,” ujar Yaqut. Ia juga menjelaskan bahwa sertifikasi halal, sebagaimana ketentuan Undang-undang, diadakan oleh Pemerintah, bukan ulang Ormas.

Wajib tercantum Sementara itu, Sekretaris BPJPH Muhammad Arfi Hatim menyebut label Halal Indonesia berlaku secara nasional. Ia menjelaskan ini menjadi tanda bahwa produk telah terjamin kehalalannya dan memiliki sertifikat halal yang diterbitkan BPJPH yang dibuat oleh jasa desain logo.

“Sesuai ketentuan Pasal 25 Undang-undang Nomor 33 mengenai Jaminan Produk Halal, pencantuman label halal merupakan tidak benar satu kewajiban yang wajib dijalankan oleh pelaku bisnis yang telah mendapatkan sertifikat halal, di samping kewajiban menjaga kehalalan produk secara konsisten, memastikan terhindarnya semua faktor mengolah berasal dari produk tidak halal, memperbarui sertifikat Halal jika era berlaku sertifikat halal berakhir, dan melaporkan pergantian komposisi bahan kepada BPJPH,”ujarnya.

Seputar logo halal baru Dikutip berasal dari laman Kemenag, penetapan label halal dijalankan untuk jalankan ketentuan Pasal 37 Undang-undang Nomor 33 Tahun 2014 mengenai Jaminan Produk Halal (JPH). Penetapan berikut juga anggota berasal dari pelaksanaan amanat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 39 th. 2021 mengenai Penyelenggaraan Bidang JPH.

Aqil Irham di dalam keterangannya menyampaikan label halal memiliki filosofi mengadaptasi nilai-nilai ke-Indonesiaan. “Bentuk Label Halal Indonesia terdiri atas dua objek, yakni bentuk Gunungan dan motif Surjan atau Lurik Gunungan terhadap wayang kulit yang bersifat limas, lancip ke atas. Ini melambangkan kehidupan manusia,” kata Aqil Irham

Adapun bentuk gunungan bersifat kaligrafi huruf arab yang terdiri berasal dari Ha, Lam Alif, dan Lam di dalam satu rangkaian membentuk kata Halal. Menurutnya bentuk berikut melukiskan makin lama tinggi pengetahuan dan makin lama tua umur maka wajib makin lama mengerucut (golong giling) manunggaling Jiwa, Rasa, Cipta, Karsa, dan Karya di dalam kehidupan, atau makin lama dekat bersama dengan Sang Pencipta.

Motif surjan adalah pakaian takwa, di mana terhadap anggota leher pakaian surjan memiliki kancing 3 pasang (6 biji kancing) yang kesemuanya melukiskan rukun iman. Selain itu motif surjan/lurik yang sejajar satu serupa lain juga mengandung arti sebagai pembeda/pemberi batas yang jelas. Sementara warna ungu merepresentasikan arti keimanan, kesatuan lahir batin, dan energi imajinasi. Sedangkan warna sekundernya yakni hijau toska, mewakili arti kebijaksanaan, stabilitas, dan ketenangan.