Mengapa Mindset Penting Saat Menyusun Skripsi?

Menyusun skripsi, bagi seorang mahasiswa, adalah kewajiban yang wajib diselesaikan. Tanpa skripsi, tidak akan tersedia gelar “Sarjana” yang melengkapi nama kita. Dan pasti saja tanpa gelar sarjana itu, kesempatan mencari kerja semakin berkurang—umumnya begitu.

Akan namun tersedia banyak masalah yang keluar sepanjang sistem mengerjakan skripsi. Mulai berasal dari kebagian dosen pembimbing yang menjengkelkan atau sulit ditemui; kesusahan menemukan judul yang tepat; diminta untuk rubah judul setelah melakukan ujian seminar proposal; sampai printer yang rusak di saat-saat penting. Makanya tersedia termasuk yang mengatakan bahwa skripsi adalah ujian pamungkas di dalam perjalanan hidup seorang mahasiswa.

Pikiran mengidamkan menyerah seringkali datang, sebab itu dibutuhkan sebuah langkah untuk bisa senantiasa bertahan menjalani prosesnya. Dan kunci berasal dari langkah ini adalah mindset yang pas sebab tanpa hal ini, langkah yang tersedia akan hancur dengan sendirinya.

Mindset yang pas untuk hadapi skripsi kedokteran adalah “skripsi itu dikerjain, bukan dipikirin. Karena skripsi itu dikerjain pusing, nggak dikerjain termasuk pusing.” Panjang termasuk ya? Tapi percaya, deh, ini benar-benar ampuh untuk—seengaknya—menjaga semangat.

Maksud berasal dari mindset di atas adalah kurangi membayangkan banyak hal tanpa mengerjakan skripsinya mirip sekali. Karena tersedia perbedaan pada “pusing ngerjain skripsi” dengan “pusing mikirin skripsi”.

Perbedaannya adalah saat Anda mengerjakan skripsi, Anda dibuat pusing oleh sesuatu yang tersedia wujudnya. Artinya, Anda bisa melakukan banyak hal untuk mengatasi “kepusingan” tersebut. Memang bisnis yang Anda melakukan nggak akan langsung berhasil, namun ini bukan persoalan juga, toh tinggal dicari kembali solusinya.

Sementara saat “pusing mikirin skripsi”, Anda termasuk dibuat pusing oleh sesuatu yang tidak tersedia wujudnya. Misalnya Anda pusing mikirin judul membuat skripsimu, atau pusing membayangkan sistem penulisan skripsi sebab kamu nggak ngerti apa-apa, dan lain sebagainya. Semua “kepusingan” ini bersarang di kepala Anda dan menyedot begitu banyak daya sampai tidak tersedia daya yang tersisa untuk mengerjakan skripsinya.

Padahal sebetulnya ini cuma menyingkirkan saat Anda yang berharga. Daripada tetap berkutat di satu titik, kenapa tidak coba mengajukan judul seadanya ke dosen pembimbing. Walaupun nantinya salah, namun kamu akan memperoleh wejangan berasal dari beliau.

Saat penulisan skripsi pun sama, tulis saja dulu apa yang bisa Anda tulis cocok dengan pemahaman pribadi. Setelah menyelesaikan satu bab, temui dosen pembimbing dan dengarkan masukannya dengan seksama. Jika tulisan Anda memperoleh banyak coretan, jangan putus asa dan berpikir dosen pembimbing mu kejam.

Justru ini adalah isyarat bahwa beliau mengidamkan membantumu. Pelajari tiap-tiap masukannya dan ulangilah sistem penulisan bab satu sekali lagi. Begitu tetap sampai tiba saatnya ikuti sidang skripsi.

Dan jangan coba-coba menjaga idealisme tanpa motivasi yang kuat. Biasanya, tersedia segelintir orang yang punya idealisme tinggi dan nggak rela mendengarkan masukan berasal dari dosen saat bimbingan. Tanpa motivasi yang kuat, Anda cuma akan mulai bahwa beliau nggak mengerti keinginanmu atau skripsimu mandeg. Karena ingat, skripsi yang bagus dan baik itu yang selesai.