Negara Paling Aktif Dalam Pengembangan Gas Bumi

Beberapa negara maju yang merupakan konsumen daya terutama pada bidang migas, seperti Amerika Serikat, Jepang dan mayoritas negara-negara Eropa seakan berlomba-lomba untuk mendapatkan akses ke sumber-sumber gas bumi di beragam negara.

Upaya selanjutnya biasanya mereka lakukan bersama dengan cara melalui investasi segera maupun melalui ekspansi perusahaan-perusahaan yang dimilikinya. Jika di awalnya perusahaan-perusahaan selanjutnya berlomba memperebutkan minyak bumi, maka sejak masa 1950-an tingkat persaingan yang serupa termasuk jadi berlaku untuk gas bumi.

Kontrak antara perusahaan produsen bersama dengan negara pemilik tidak lagi cuma sebatas komuditas minyak bumi, namun sekaligus gas bumi. Terlebih gas bumi serta minyak bumi dengan Flow Meter LC termasuk dapat ditemukan didalam satu reservoir saat pengeboran sumur minyak. Hal inilah yang membuatnya dapat diproduksi bersama dengan minyak bumi dan pastinya merupakan keliru satu keuntungan bagi produsen.

Perusahaan-perusahaan migas asal Eropa Barat yang mayoritas tidak punya cadangan gas bumi atau cuma mempunyai cadangan bersama dengan kuantitas terbatas, sejak awal 1950-an sudah aktif lakukan bisnis pencarian gas bumi. Sejumlah penemuan wilayah cadangan gas bumi di Algeria berlangsung sejak tahun 1956, yang pada saat itu masih merupakan jajahan Prancis.

Setelah Algeria mendapatkan kemerdekaan pada tahun 1962, negara-negara Eropa barat seperti Inggris, Perancis dan Italy tetap mengambil alih anggota didalam pengembangan produksi gas bumi dan termasuk mendapatkan alokasi dari Algeria. Shell yang termasuk merupakan perusahaan migas asal Eropa, pada tahun 1971 sukses menemukan cadangan gas bumi di lapangan North West Dome, Qatar.

Perusahaan asal Amerika Serikat termasuk tidak kalah agresif didalam bisnis pencarian gas bumi. Pada tahun 1967 Mobil Oil Corporation menandatangani Production Sharing Contract (PSC) sebagai mitra Pertamina. Pada tahun 1971 mereka sukses menemukan cadangan gas bumi yang lumayan besar tepatnya di lapangan Arun, Aceh.

Selain itu, perusahaan asal Amerika Serikat lainnya HUFFCO termasuk lakukan penandatanganan PSC bersama dengan Pertamina untuk pengusahaan migas di Indonesia tepatnya pada tahun 1968. Selama periode 1972 hingga 1973, perusahaan-perusahaan selanjutnya sukses menemukan lebih dari 70 sumur gas bumi di beragam wilayah Kalimantan Timur. Total cadangan gas bumi yang ditemukan selanjutnya baik didalam kategori associated gas maupun non-associated gas menggapai lebih kurang 6 triliun kaki kubik.

 

Negara Asia yang benar-benar agresif melacak sumber-sumber cadangan gas bumi, terutama didalam bentuk LNG adalah Jepang. Negara yang minim sumber daya migas ini benar-benar aktif didalam mendorong bahkan ikut berinvestasi didalam pengembangan LNG.

Umumnya, Jepang berinvestasi melalui Japan Ex-Im Bank ke perusahaan-perusahaan migas negaranya yang beroperasi di beragam negara didalam rangka pengembangan LNG untuk pasar gas di negaranya.

Contohnya, kepada perusahaan Mitsubishi didalam rangka pengembangan LNG di Brunei Darussalam pada tahun 1972, Mitsui untuk pengembangan LNG di Abu Dhabi tahun 1977 dan JILCO untuk pengembangan LNG di Bontang dan Arun. Hingga tahun 1980-an, Jepang mendapatkan supply LNG dari sejumlah negara produsen LNG seperti Indonesia, Malaysia, Uni Emirat Arab dan Amerika Serikat.