Penitipan Anak Jadi Bisnis Menggiurkan

Mungkin aku kurang sensitif dalam mengamati kesempatan bisnis. Sungguh, sepanjang ini aku belum memandang betapa menggiurkannya berbisnis jasa penitipan anak.

Bahwa aku seorang laki-laki, bukan alasan untuk tidak mengamati usaha yang lebih bernuansa perempuan tersebut.

Kenapa aku sebut bernuansa perempuan? Karena yang datang ke daerah penitipan anak di pagi hari, rata-rata adalah ibu-ibu yang bakal berangkat kerja.

Lalu, terhadap sore hari, ibu-ibu yang serupa bakal ulang ulang menjemput anaknya. Jarang sekali bapak-bapak yang singgah ke daerah penitipan anak.

Saya baru sadar bahwa usaha bali childcare (istilah keren untuk daerah penitipan anak) merupakan “sesuatu”, setelah dua orang famili aku tertarik dambakan membuka usaha tersebut.

Salah satu famili yang aku maksud adalah adik aku sendiri, seorang guru SMP yang tahun depan bakal memasuki masa pensiun.

Adik aku itu bersama suaminya telah belanja sebuah rumah untuk direnovasi menjadi daerah penitipan anak di Payakumbuh, Sumatera Barat.

Seorang lagi, keponakan saya, telah lebih lama berancar-ancar sudi membuka usaha penitipan anak, namun sampai saat ini ia terkendala kasus permodalan.

Keponakan tersebut dulu merayu aku sehingga menjadi investor, namun disaat itu aku belum meresponnya bersama baik, dikarenakan itu tadi, aku belum menangkap potensi besarnya.

Sekarang, setelah aku membaca sejumlah referensi, pandangan aku makin terbuka. Jika memiliki rencana yang matang, pasti terhitung modal, menurut aku usaha penitipan anak terlampau menjanjikan.

Modal sadar diperlukan paling tidak buat menyewa daerah (akan lebih bagus ulang sekiranya tempatnya menjadi milik sendiri), kemudian melengkapinya bersama beraneka layanan bagi anak-anak.

Bila tempatnya masih berbentuk rumah biasa, wajib direnovasi sebagian, sehingga jatah ruangannya sesuai bersama standar sebuah daerah penitipan anak.

Alat-alat bermain dan terhitung taman bermain di halaman rumah, bakal menjadi energi tarik sehingga anak-anak betah bermain di sana.

Faktor lokasi daerah penitipan anak menjadi hal yang krusial. Sebaiknya lokasinya berada dekat komplek perumahan yang penghuninya dominan para karyawan, terhitung ibu-ibunya.

Sedangkan jam beroperasi umumnya dari pukul 06.00 sampai 18.00. Jadwal bermain, makan, tidur siang, wajib diatur sedemikian rupa sepanjang jam operasi tersebut.

Selain pengasuh anak, diperlukan terhitung tenaga keamanan. Sedangkan tenaga administrasi dapat dirangkap oleh pengasuh, jika belum dapat menggaji pekerja khusus.

Promosi lewat sarana sosial dan juga promosi dari mulut ke mulut menjadi pilihan sehingga sebuah daerah penitipan anak dikenal oleh penduduk setempat.

Terakhir, hati-hati dalam memutuskan tarif sehingga terjangkau oleh konsumen yang disasar sekaligus masih memberikan keuntungan bagi pemilik daerah penitipan anak.

Ibu bekerja di masa saat ini bukan hal yang langka. Semakin banyak ibu-ibu yang bekerja, makin besar kesempatan usaha penitipan anak.

Kalau di Payakumbuh saja, kota berpenduduk sekitar 200.000 jiwa, banyak wanita pekerja, apalagi di kota besar yang menjadi ibu kota provinsi atau di Jakarta dan sekitarnya.

Memang, dilema bagi wanita karier adalah bagaimana sehingga keluarga, terutama anak, tidak dikorbankan, sepanjang mereka bekerja.

Dengan adanya daerah penitipan anak yang bagus, bakal mendatangkan rasa safe bagi ibu-ibu yang sedang bertugas di kantor atau di daerah lainnya.