Selesaikan Perkara Secara Damai Melalui Mediasi

Selain melalui meja persidangan, suatu perkara ternyata termasuk mampu diselesaikan melalui sebuah prosedur yang disebut dengan mediasi.

Di Indonesia sendiri telah tersedia regulasi yang mengatur soal mediasi, yaitu Pasal 1 ayat (1) Peraturan Mahkamah Agung (Perma) Nomor 1 Tahun 2016 berkenaan Prosedur Mediasi di Pengadilan.

Dalam ketetapan tersebut, untuk lakukan mediasi, wajib terdapatnya seorang  mediator kuliah timur tengah yang telah bersertifikat dan mampu menyelenggarakan sistem penyelesaian perkara secara netral.

Lalu, seperti apa syarat dan kemampuan penting yang wajib dipenuhi oleh seseorang untuk menjadi mediator? Berikut Info lengkapnya

Syarat Menjadi Mediator

Sebelumhya, wajib diketahui bahwa tidak semua pihak dalam lingkup hukum mampu menjadi seorang mediator.

Sebab ketentuannya menerangkan, yang mampu menjadi mediator dalam pengadilan perkara hukum adalah sebagai berikut.

Hakim yang bukan pemeriksa perkara terhadap pengadilan yang bersangkutan.
Advokat atau akademisi hukum.
Profesi bukan hukum yang diakui oleh para pihak mampu menguasai atau memiliki pengalaman dalam pokok sengketa.
Hakim majelis pemeriksa perkara.
Gabungan pada mediator yang disebut dalam butir (1) dan (4), atau kombinasi butir (2) dan (4), atau (3) dan (4).
Jika tersedia satu orang yang termasuk dalam kualifikasi tersebut, maka setelah itu wajib dilihat lagi apakah ia mampu mencukupi syarat menjadi mediator di bawah ini.

Keberadaan mediator disetujui oleh ke dua belah pihak yang tengah bersengketa.
Tidak mempunyai pertalian keluarga sedarah atau semenda dengan ke dua atau salah satu pihak yang tengah bersengketa.
Tidak mempunyai keperluan finansial terhadap penyelesaian sengketa yang ditanganinya.
Tidak mempunyai keperluan terhadap sistem perundingan maupun hasilnya.
Mediator wajib memiliki kemampuan secara personal.

Kemampuan Wajib Seorang Mediator

Penting bagi seorang mediator memiliki kemampuan spesifik yang terjalin dengan tugasnya, sehingga perkara yang diampunya mampu tertanggulangi secara baik-baik.

Di sini, setidaknya tersedia sebelas kemampuan penting yang wajib menjadi pegangan seorang mediator.

Mampu beri tambahan service yang adil dan sepadan kepada para pihak.
Harus mampu memposisikan diri sebagai pemacu semangat, pengendali keadaan, dan pengatur strategi dalam upaya untuk mewujudkan sistem pertalian timbal balik dalam membangun kesepakatan.
Bisa membangun kepercayaan di pada ke dua belah pihak yang bersengketa sepanjang sistem mediasi.
Tidak memiliki keperluan apa-pun terhadap penyelesaian sengketa yang tengah ditanganinya.
Memiliki sikap empati terhadap persengketaan yang tengah terjadi di pada ke dua belah pihak.
Tak bersikap seperti seorang hakim sebab tugas ke dua telah berbeda.
Selalu beri tambahan reaksi positif setiap ke dua belak pihak yang bersengketa mengeluarkan pernyataan.
Dapat berkomunikasi secara baik, jelas, dan teratur, dengan menggunakan bahasa yang simple dan juga kalimat-kalimatnya tidak menyebabkan ambiguitas.
Menjaga pertalian dan menciptakan pendekatan salah satu ke dua belah pihak yang tengah bersengketa.
Harus memiliki pembawaan berkarakter yang baik.
Harus memiliki hati dan asumsi yang bersih.